THAI MILK GREEN TEA 

Number One Brand’s Milk Green Tea is exclusively grown & harvest from the cool mountainous regions in Thailand home to the greatest tea plantations in the world. Traditionally picked by skilled hands and blended by our tea masters, the tea releases an elegant aroma along with a sweet taste and pleasant flavor.

Our Milk Green Tea is best served with milk that can be savored either hot or cold. It can also be used as an ingredient to concoct your preferred beverage and it can be mixed with various products to create delicious recipes for confectioneries, sweets and ice cream etc.

 

Cara Membuat Thai Green Tea :

  • Masukan 1 sendok teh “Thai Greentea Number One Brand” kedalam 1 gelas (300ml)  air panas, selama +-4 menit, lalu saringTambahkan 2-3 sendok teh gula/ sesuai selera dan 1-2 sendok teh susu kental manis
  • Anda juga dapat menambahkan susu evaporasi untuk menambah gurih rasa.
  • Aduk rata dan sajikan dengan es.

Catatan :

200gr teh dapat di seduh hingga 100 cup/ gelas (300ml)

Resep pembuatan green tea dapat disesuaikan dengan selera / kebutuhan anda.

 

Sumber: http://mygallerykuliner.blogspot.co.id/2015/07/resep-minuman-thai-tea-enak-dan-segar.html

THAI TEA HISTORY

1920

The 3rd brother of owner’s father had lead his 8 siblings immigrated from Chaozhou, China to settle in Thailand.

1925

The 3rd brother or “Sa Pae” had established Chinese Tea Shop named “Lim Meng Kee” at Chalermburi, Yaowarat Road. The tea products were imported from China and this was the origin of family tea business.

World War II

After the shop had been established for about 20 years and had a fairly good operating result, the World War II was begun. The shop at Chalermburi was damaged by bomb, so the shop had to move to Soi Padungdao, Yaowarat and continued the business. The main product was still a Chinese tea, Oolong tea and green tea as well as the shop begun to imported red tea at this period.

Year 1945: The Beginning Of Cha Tea Mua (Number One Brand Thai Tea)

As Thailand is a tropical country, Chinese hot tea is not very popular among Thai people. The shop had imported red tea to make Thai Milk Tea and Thai Black Tea both served with ice to meet the needs of Thai people. The name “Cha Tra Mua” was given and took 1945 as the starting year of the “Cha Tra Mua” brand since then.

During The Years 1945-1965

Thailand originally collected tea leaves to make tea leaf-wrapped appetizer. However, Thai people started to make their own tea and developed as Thai tea. “Mr.Ting” the shop manager at that time was the first group of pioneers who opened up the tea factory on Wawee hill at Mae Suai district, Chiang Rai province. The factory name was “Cha Hom Factory” or Aromatic Tea Factory in which the tea machineries had to use elephants to drag up to the Wawee hill.

Years 1965-1986

Due to the difficulty and inconvenience of travel and management, the factory at Wawee hill had to be cancelled. The shop manager turned to developed and built a purchasing network with local tea planters. Later when the roads are more comfortable, the current owner recognized the important of Chiang Rai and the nearby area which have plenty number of tea. He started a new factory located at Wiang Pa Pao district, Chiang Rai in 1986 and gave name “Siam Tea Factory” until today.

From The Past To The Present And The Future (About Us).

From Lim Meng Kee tea shop to Siam Tea Factory, we collected an experience of making Thai Tea for more than 60 years. Number One Brand Thai Tea has a uniquely recipes and neatly in every production processes for making quality Thai Tea that has been loved by Thai people as well as foreigners for a long time. We still develop our new products such as green tea, milk green tea, Ceylon tea and all kinds of tea to response the popularity of drinking tea of Thai people and foreigners. In order to build consumer confidence, we have developed a factory manufacture standard such as GMP Codex, Halal and will continue to provide the best standard without delay.
We targeted to have a factory that can produce all kinds of tea, concentrated on aromatic delicious tea taste that all consumers can trust on our quality and reasonable price.

 

Source:

http://chathai.herokuapp.com/about

 

 

SEJARAH THAI TEA

 

Written By Ryan Kal on Saturday, November 17, 2012 | 10:50 AM

Kerajaan Thailand didirikan pada pertengahan abad ke 14. Dikenal dengan nama Siam sampai dengan 1939, Thailand adalah satu-satunya Negara di Asia tenggara yang tidak pernah dikuasai oleh bangsa Eropa. Revolusi damai pada tahun 1932 berujung pada monarki konstitusional. Bekerja sama dengan Jepang pada perang dunia ke-dua, Thailand menjadi ally Amerika setelah konflik yang terjadi.

Walaupun Thailand dari sudut pandang sejarah tidak pernah menjadi negara peminum teh, Thai tea merupakan hal umum di sepanjang sejarah Thailand. Kebanyakan mengenal minuman manis kental yang disebut Thai tea. Biasanya terdiri dari the hitam dengan bunga lawang (star anise), pewarna makanan, kadang dicampur dengan rempah-rempah dan susu kental manis. Disuguhkan secara panas atau dengan es.

Pohon teh adalah tanaman asli dari Thailand Utara, namun penduduk Thailand dan tetangga dekatnya Burma tidak memiliki tradisi meminum teh. Didalam sebuah resep kuno tertulis teh hijau yang direndam dengan air asin dimakan sebagai sayuran. Acar yang asin, dan agak pahit yang dihasilkandisebut “miang” dalam dialek local, adalah teh aneh bagi kebudayaan barat.

Cerita yang lebih baru mengenai bagaimana kultivasi tanaman teh lebih menarik, termasuk didalamnya sedikit sejarah yang berhubungan dengan revolusi China tahun 1949 dan periode perang dingin.

Pada tahun 1949 akhir, sebagian kecil dari pasukan nasionalis Chiang-kei Shek di Yunnan (dikenal dengan nama Guo-min-dang, atau KMT) terpisah dengan pasukan utamanya. Bersamaan dengan itu, pasukan nasionalis yang kalah perang mundur ke Taiwan, meninggalkan pasukan kecil yang terpisah dari KMT Yunnan. Terisolasi, namun tidak gentar, pasukan ini memimpin serangan gerilya terhadap pasukan pembebasan China (PLA). Namun, mereka dipukul mundur ke selatan hingga ke Burma, dimana mereka melanjutkan serangan terhadap para komunis. Pada tahun 1960-1961, mereka dipaksa keluar dari Burma menuju Thailand utara, dimana asimilasi mereka baru selesai sebagian.

Selama berpuluh-puluh tahun, pejuang KMT melakukan operasi illegal didalam wilayah segitiga emas: penyelundupan permata dan obat-obatan terlarang, perdagangan gelap, dan aktivitas sejenis lainnya. Akhirnya, melalui edukasi dalam sekolah pemerintah dan program inovatif seperti Royal Project for Crop Replacement, yang menawarkan kehidupan alternatif (sah), generasi baru dari immigran berasimilasi secara kultur dan ekonomi kedalam masyarakat Thai. Penanaman the merupakan salah satu dari pilihan yang legal.

Berasal dari provinsi Yunnan, daerah asal dari teh, secara alami menanam dan membuat the adalah salah satu dari kegiatan ekonomi yang dipilih oleh penduduk baru Thailand ini. Tanaman teh yang pertama diimpor dari China dan Taiwan dan ditanam pada dataran tinggi provinsi Chiang Mai pada akhir 1980. Asosiasi penanam teh Taiwan, bermaksud untuk mendukung mantan teman seperjuangan mereka di KMT dulu. Mereka mengirimkan ahli teh untuk menyediakan dukungan agrikultural secara teknis . Dua klon dari varietas teh, dikenal sebagai No. 12 dan No. 17 (ber sip-song dan ber sup-jet dalam bahasa Thai), ditanam secara besar-besaran yang mengakibatkan kualitas daun yang lebih konsisten, produktivitas yang meningkat, dan ketahana yang lebih baik dari penyakit.

Hari ini, apa yang dimulai sebagai daerah kantong China yang bersenang-senang dalam aktivitas ilegal di lembah yang mengelilingi desa Mae Salong, telah menjadi komunitas yang legitimate, kohesif, ekonomis, ditandai dengan taman teh independen yang menghasilkan teh Oolong. Adalah sebuah desa yang indah, sejuk dan bersemangat. Dengan sekolah, hotel kecil, restoran Chinesse dan Thai, dan sayangnya supermarket dan pusat game. Semua milik mereka sendiri.

Gaya dari teh yang diproduksi di desa teh tersebut didominasi oleh tipe Formosa klasik. Tergulung rapat, daun abu-abu hijau ke hijau yang separuh teroksidasi diproduksi dalam gaya Tung Ting, provinsi Nantou dari Taiwan. Teh yang diproduksi di Mae Salong terjual dengan baik di pasar teh lokal dan dijual setelahnya oleh hotel, spa, dan toko makanan Thai. Sebagian dari Daun teh terbaiknya diekspor ke eropa, secara khusus ke Mariage Freres, Paris, dan kepada pasar Taiwan. Produk ini hampir tidak dikenali di Amerika.

Umum dengan kebanyakan cerita mengenai penyebaran dari teh, Thai tea enemukan akarnya di tengah-tengah peperangan. Thai tea tidak dihasilkan oleh kekuatan kolonial yang berencana untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan pekerja murah. Ini dihasilkan oleh keturunan dari kekuatan yang terkalahkan, yang mundur dari kekuatan komunis PLA. Hal ini merupakan bagian unik dari sejarah, sisi yang mengagumkan, seperti teh, kepada intrik dari bangsa-bangsa di dunia.

Thailand – Doi Mae Salong

Doi Mae Salong sering disebut sebagai “Swiss Kecil” dari thailand. Pemandangan yang indah mengundang lebih dari 200 ribu turis setiap tahunnya.

Seperti pemandangannya, Doi Mae Salong adalah rumah bagi 4500 rai (28,125 hektar) tanaman teh. Banyak dari teh yang diproduksi disini adalah teh Oolong gaya Taiwan yang ditanam oleh keturunan pasukan China yang mundur dari revolusi China tahun 1949.

Teh Doi Mae Salong

Doi Mae Salong, berlokasi 45 Km Utara dari distrik Mae Chan di provinsi Chiang Rai pada ketinggian sekitar 1500 meter. Mempunyai suhu rata-rata 25 derajat Celsius dan udaranya kering, sejuk, dan menyegarkan sepanjang tahun – kondisi ideal untuk teh.

Kondisi penanaman dari Doi Mae Salong, sangat mirip dengan Taiwan, yang memproduksi beberapa dari teh Oolong terbaik di dunia. Banyak dari pohon teh yang tumbuh di Doi Mae Salong berasal dari Taiwan, dan kebanyakan dari produksi tehnya adalah teh Oolong gaya Taiwan.



Teh hijau dan Teh Hitam juga diproduksi disini, dan provinsi Chiang Rai memproduksi sekitar 200 ton rteh per tahunnya. Sekitar 70% dari produksi tersebut di konsumsi secara lokal dan 30% sisanya diekspor. Pengguna mayoritas dari teh Thailand termasuk didalamnya Eropa dan Dubai.

Pemerinta Thai mempromosikan turisme di area tersebut dengan cara mendesain Doi Mae Salong sebagai desa OTOP (One Vilage One Product) (baca: satu desa satu produk). Tersedia banyak pilihan akomodasi dan restoran dan semua orang yang tertarik dalam produksi teh dapat menjelajahi daerah penanaman teh di areea tersebut.

Sumber:

http://www.gshaly.com/teas/thailand.htm

http://www.teagenius.com/tea-growing-areas-of-asia/thailand-doi-mae-salong.html

http://peacockbistro.blogspot.co.id/2012/11/sejarah-thai-tea.html